|
Menonton pertandingan memang menyenangkan, mengomentarinya lebih menyenangkan, seperti para penonton bola yang teriak-meneriaki pemain idola yang gagal mencetak goal, lalu berkaok dengan sederet makian dan anjuran serba 'seharusnya begini…'. Seperti itu pula menonton adegan politik bangsa. Para pesertanya sedang bergelut dengan rapat-rapat besar, yang satu-dua keputusannya membentuk wajah bangsa lima tahun kedepan. Mereka adalah kader terbaik PKS yang sudah melalui sederet filter, hingga berkewajiban mengurangi puluhan jam jatah tidur, setiap bulannya untuk menghadiri estafet syuro yang panjang. Mereka para doktor, master, atau sarjana syariah. Mereka juga pakar ekonomi, politik, strategi, budaya, sastra, dan IPTEK. Seperti miniatur ahlul Halli wal 'Aqdi, mereka duduk bersama mengkaji posisi perjalanan da'wah Islam di Indonesia, marhalahnya, ketercapaian dari visi utama, dan juga memperbandingkannya dengan realitas Indonesia yang sedang dihadapi. Saat da'wah Islam harus memilih diantara calon presiden yang ada, mereka tidak sedang menghadapi calon yang seperti Umar atau Abu Bakar, tapi figur-figur yang penuh catatan tapi membawa harapan perubahan. Dan diantara catatan-catatan dan harapan itulah mereka memilih. Memilih dengan syuro yang berat bersyarat. Pertama, kualifikasi kepakaran para anggota majelis Syuro, yang setiap anggotanya berpikir dengan dominasi akal atas emosi serampangan atau rajahatul 'aql. Juga tingkat kedalaman ilmu pengetahuan yang sangat menentukan mutu analisis pikiran dan gagasan yang dilontarkan. Kedua, yaitu ketersediaan sumber informasi yang memadai. Sehingga setiap keputusan terjamin dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Ketiga, adanya tradisi ilmiah dalam perbedaan pendapat. Sehingga setiap perbedaan terkelola dengan efektif dengan seleksi, penyaringan dan integrasi ilmiah. Akan tetapi setelah rangkaian proses besar itu terjadi, datanglah badai, yang sudah menjadi hukum sejarah akan selalu meniup kekokohan sebuah barisan da'wah. Mulai dari syubhat istri capres-cawapres yang tidak Islami hingga tuduhan Katolik, atau isu neoliberalis yang menjamur di situs-situs ringan dan celotehan-celotehan santai tanpa akurasi data, atau hembusan panas bahwa para anggota Syuro yang menjabat telah menjadi para penjahat, berlomba akan mobil dan villa, atau posisi bergengsi dan jajaran menteri. Bahkan lebih ajaib, para pakar dan guru pragmatis dari generasi tua, yang sejak lama berpragmatis ria, tiba-tiba menyerbu partai da'wah dengan isu pragmatisme di sini-sana. Semua opini akhirnya berujung satu, bahwa produk Syuro perlu dipertanyakan, bahwa PKS telah beranak dua, partai keadilan dan partai kesejahteraan. Bahwa kader telah menegakan keadilan, dan qiyadah meraup kesejahteraan, sehingga tidak ada keputusan Syuro yang layak diperjuangkan. Namun sejarah mencatat bahwa tidak semua strategi pemimpin difahami umat pada awalnya, sebagaimana sikap politik Rasul dalam Hudaibiyyah yang membuat para sahabat bertanya-tanya, atau seperti Musa yang bingung-termangu dengan kebijakan Khidir sang guru. Atau Muhammad Al Fatih yang mengangkut ratusan kapal laut lewat darat, sehingga menghebohkan penduduk Turki Usmani, sebelum akhirnya strategi itulah yang memenuhi mimpi delapan abad umat Islam: pembebasan ibukota Romawi Timur, Konstatinopel. Seperti itu sejarah berkata, dan seperti ini pula realitas yang dihadapi partai da'wah di Indonesia berbicara. Bahwa keputusan Syuro yang telah melewati mekanisme prosedural yang super ketat, sedang menghadapi pertanyaan besar dari masyarakatnya sebagaimana para pendahulunya. Dan tugas selanjutnya yang perlu dilakukan adalah komunikasi publik yang jelas dan transparan, itu pun telah mereka lakukan. Maka yang tersisa hanyalah mempertanyakan orang yang mempertanyakan, dan menguji pihak-pihak yang gemar berteori.Karena bukti keikhlasan yang sejati justru terletak pada ketundukan atas suatu keputusan Syuro yang tidak sesuai obsesi pribadi dan taat walau dalam keadaan terpaksa, khususnya bagi kader. Sebab mengerjakan keputusan yang disenangi mudah, bahkan terlalu mudah. Tapi mengerjakan agenda yang sepahit Paracetamol, akan menunjukan tingkat kematangan tarbiyyah, sebagaimana Hanzhalah yang masih junub di malam yang halal bergegas menuju ladang amal terbesar luar rumah sana.Sehingga keberatan hati terhadap hasil Syuro setidaknya perlu diuji kelayakannya dengan hal-hal berikut:Apakah gagasan yang menyebabkan keberatan hati itu terpancar dari mata air penelitian ilmiah, kajian sistematis, analisis kualitatif dan kuantitatif, kajian berkala, riset, perenungan, pengalaman lapangan yang mendalam sehingga validitasnya setidaknya memenuhi syarat untuk sekedar dikomparasikan dengan hasil Syuro puluhan pakar, puluhan doktor. Ataukah gagasan itu lahir dari rahim pikiran yang melintas saat berada di kamar mandi, dan akhirnya menguat jadi kegundahan hati, lalu menjadi ide, hingga menyebar di milis dan artikel yang dibaca jutaan orang. Apakah gagasan itu 'solution oriented' atau 'unique oriented' sehingga dengannya seseorang keras-mengeras dengan setumpuk bukti penjelas. Karena betapa indahnya julukan 'kritis' yang menempel di dada seseorang. Apalagi ungkapan 'pemberani' karena menentang gagasan matang yang dihasilkan Syuro. Sebagaimana pepatah Arab "Khoolif Tu'rof!", "nyelenehlah maka kau akan terkenal!". Dan repotnya, godaan ini terlebih merayu kader-kader senior, yang dengan kapasitas keilmuannya yang matang, seakan sudah mampu merumuskan strategi besar da'wah tingkat negara seorang diri dibandingkan kesepakatan tim besar. Bahkan andai gagasan itu berorientasi solusi, bukan ingin bermegah-megah dengan kekritisan pribadi, maka sebetulnya Syuro lebih kuat, dalam keseriusan rapat yang solutif, karena "ummatku tidak akan pernah bersepakat dalam kesesatan" sebagaimana kata Rasulullah. Jikapun ternyata gagasan pribadi lebih benar dan keputusan Syuro yang telah menyebar lemah atau bahkan salah, maka sesungguhnya risiko keretakan barisan lebih kecil dengan hasil Syuro yang dipertanggung-jawabkan bersama dibanding gagasan pribadi yang lebih berpotensi melahirkan kontra gagasan lain yang terus-menerus. Karena gagasan individu jauh lebih tidak menyatukan umat walaupun benar. Padahal "yadu Allohu ma'a al jama'ah", karena dalam hal ini kaidahnya bukan sama sekali antara dua opsi benar-batil, atau hitam-putih, tetapi rajih-marjuh diantara dua pahala atau satu pahala, yang tidak ada dosa di keduanya.Justru sering terjadi, ketika keputusan Syuro salah dengan barisan yang tetap kokoh, Allah menunjukan beberapa lubang yang jangan sampai dilalui lagi di masa depan, sehingga dengannya barisan da'wah jauh lebih solid, setelah melalui episode kesalahan ini. Sebagaimana gerakan da'wah di Al Jazair yang pernah diremukan pemerintahnya, sehingga menyadarkan gerakan da'wah di seluruh dunia dengan kaidah-kaidah sosial baru dalam tantangan da'wah zaman ini. Namun terlepas dari semua itu, persoalan yang tersisa adalah posisi. Apakah ia seorang peserta perubahan bangsa, ataukah sekedar penonton. Karena bagi penonton kepentingan dia hanyalah serunya pertandingan, bahkan andai semua gagasan yang menentang keputusan Syuro telah luluh lantak dihadapan uji kelayakan tersebut, ia tetap tidak akan diam menyaksikan perubahan negeri mulus semulus Myke Tyson muda yang selalu menyelesaikan pertandingan bahkan sebelum kopi penonton dingin. Ia tetap mengharap sensasi hangat antara para kontestan perubahan bangsa, bahkan tidak masalah jika harus menstempel semua elemen Islam dengan teroris, trans-nasional, atau isu bahwa Syuro adalah otak dari gerakan Islam garis keras. Bagi mereka sensasi harus tetap ada agar pertarungan antar umat panas dan seru.Sedang bagi peserta, yang menjadi kepentingannya adalah agendanya. Maka serasional apapun logika Syuro menghasilkan keputusan untuk da'wah Islam, ketika kepentingan peserta lain terancam maka syubhat terhadap Syuro adalah salah satu cara efektif baginya. Sehingga jika syubhat di puluhan media menjamur seputar keputusan Syuro, bukankah lebih layak mempertanyakan syubhat-syubhat yang ditulis orang-perorangan itu, yang juga sarat kepentingan?Akan tetapi jika peserta perubahan bangsa yang mempunyai cita-cita da'wah yang sama masih berat menerima keputusan Syuro, sesungguhnya disinilah mereka belajar makna keikhlasan yang besar untuk melepaskan ego individu, makna persatuan umat, makna kerendahan hati akan keterbatasan ilmu, gagasan, dan sudut pandang menilai negara yang luas ini, juga makna ke-tsiqoh-an terhadap majelis Syuro yang mempertemukan akal-akal besar para pemimpin dari kader-kader terbaiknya, yang sebagian gaji bulanannya diinfakakan untuk umat, yang keringat kerjanya jauh melebihi kader-kadernya. |