|
“..siapa yang lemah imannya, ia tidak mampu mengetahui, memahami dan merasakan makna memberi.. ” (Jasim M. Yasin) Indonesia menantinya. Orang tua, sanak keluarga, masyarakat bahkan umat menunggu kehadirannya. “Mengapa tidak cepat pulang ke tanah air?” Jawabannya, "Realita masyarakat dimana ia hidup sekarang masih berat melepas kepergiannya. Ia ada di sini, saat ini, hadir dekat bersama ‘kita’. Tidak semua yang berlama-lama di Mesir mendapat preseden negatif. Mumtaz, jayyid jiddan, Lc, MA, bahkan Doktor adalah prestasi-prestasi yang patut diapresiasi tapi bukan hanya itu lingkup prestasi. Tapi adakah yang berfikir lebih dalam, hingga menemukan sosok yang menjadi aktor utama tersembunyi dibalik lahirnya sarjana-sarjana dari Mesir, adakah yang menemukan? Ia memang sudah lama tinggal di Mesir, tapi bukan termasuk mereka yang takut pulang ke tanah air, atau terlena dengan arus kehidupan Masisir, atau terbawa ritme budaya Kairo. Ia juga bukan tergolong kelompok malas belajar, enggan kuliah dan apriori terhadap guru-guru di al Azhar. Masa kuliah S1 dilalui dengan lancar, tepat waktu dan credible. Jauh-jauh hari dalam benaknya sudah tertanam agenda besar, yaitu menjadi salah satu sebab dari keterarahan hidup kawan-kawan Masisir. Banyak sisi yang tak habis dikaji. Namun ada satu sisi dari kepribadiannya yang dengannya ia melesat menjadi salah satu tokoh-tokoh agung Masisir. Sisi itu adalah kontribusi. Ia selalu memposisikan dirinya pada posisi ‘memberi’. Tidak berhenti disitu, tapi memberi tanpa ikutan. Tanpa al- Mann wal Adzaa` (Al Baqarah:264). Banyak orang memberi, tapi tidak banyak yang memberi tanpa ikutan. Tanpa gerutu. Tanpa resah dan gerah. Tanpa khawatir hari esok dari mana rezki di tangan lagi. Apalagi memberi dalam rangka menundukkan; membuat kepala orang yang diberi tertunduk. Atau memberi supaya menanam; berharap jasa dari orang yang diberinya kelak. Satu waktu, pernah salah seorang mahasiswa terpeleset menyebutkan namanya di hadapan orang. Sontak sang dermawan ini begitu resah. Baginya, saat ia memberi dan diketahui orang lain maka itu cukup meresahkan dirinya. Apalagi yang mengetahuinya adalah orang belum terbiasa memberi tanpa ikutan. Baginya, sudah memberi belum menenangkan, sebab ia masih cemas apakah amal ini diterima Allah atau tidak (Al Mukminun:60). Setiap diminta, ia tidak pernah menjawab ‘maaf’ apalagi ‘tidak’. Pemberian dengan pemasukannya tidak nyaman dihitung secara matematis. Sebab, pemberiannya melampaui wajib zakat harta temuan (ukaz). Prosentase infak finansialnya mengungguli target suara PKS di Pemilu 2009 (20 %). Hebatnya, siang-malam, saat bangun dan beranjak tidur, senantiasa bergemuruh dalam alam jiwa dan fikirannya surat para penyair (Asy Syu’ara:109). Orang-orang sering lupa dengan masalah yang menghimpitnya karena ia selalu memikirkan berbagai masalah banyak orang. Menariknya, ia tetap bahagia tersembunyi. Nyaman dengan dunianya yang sepi dari publikasi, reward dan award. Tunggu saja. Cepat atau lambat, sejarah tidak pernah berdusta. Orang seperti ini pasti akan ditempatkan sejarah, secara jujur dan layak, sesuai dengan integritas kepribadiannya, baik di dunia apalagi di akhirat. Orang-orang sejati pasti menikmati keringat perjuangannya (Al Maidah:119) sebagaimana orang-orang bertopeng juga akan merasakan jerih-payah kemunafikannya. Begitulah jalan hidup seorang tokoh yang sesungguhnya.Tokoh besar tidak meletakkan cita-cita utamanya pada obsesi menjadi tokoh. Ia memiliki obsesi, tapi tidak untuk menjadi tokoh. Obsesinya terlalu besar hingga melampaui fikiran-fikiran manusia pada umumnya Cita-citanya terlampau agung hingga menggulung keinginan-keinginan dunia yang tiada bertepi dan berujung. Dan cita-cita agung ini dapat dibaca dari fikiran tokoh muslim sejati melalui dua kata yang terus mengalir dalam energi kehidupannya. Dua kata itu adalah Allahu Ghayatunaa! Suhartono TB Tokoh masyarakat adalah orang-orang yang dihormati dan disegani dalam masyarakatnya, karena aktivitas dalam kelompoknya serta kecakapan-kecakapan dan sifat-sifat tertentu yang dimilikinya. |