Menikmati Kesibukan
Ditulis Oleh Oni Sahroni, MA.   
Sabtu, 04 April 2009

 Aktifitas begitu padat.. kegiatan begitu banyak.. beruntun.. hingga harus melebihkan waktu untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan belajar. Kesan ini muncul dari banyak kesibukan aktifis di Kairo ini.

Dalam setahun, sekitar enam bulan sibuk dengan aktifitas perkuliahan  di kampus. Berjibaku dengan muqarrar, aktif bimbel, menghapal, mentalkhis, agar bisa lulus dalam ujian. Pada enam bulan berikutnya, kesibukan beralih ke luar kampus. Mulai sibuk ngurus sebuah acara, menulis dan mempresentasikan makalah, hingga talaqqi, i'tikaf, shaum bersama, dan tak ketinggalan main bola bersama.

Padatnya aktifitas sangat mungkin melahirkan dua fenomena yang berseberangan. Yang pertama, melahirkan irhâq (merasa terlalu cape), jenuh, bahkan ketika aktifitas pribadi terbengkalai, rentan mengurangi keikhlasan dalam beramal. Yang kedua, bias menyelesaikan setiap tugas dan mengatur setiap aktifitas harian yang padat, atau bahkan bias menikmati kesibukan  dalam kondisi yang cape dan lelah.

Salah cara untuk bisa menikmati aktifitas adalah dengan membuat target beraktifitas dengan indikator keberhasilannya yang merupakan penterjemahan dari makna keikhlasan, sehingga terukur output dari aktifitas yang akan dilakukan. Target ini berbeda dari satu ke yang lainnya. Dua hal di bawah ini adalah contoh dari target dalam beraktifitas, yaitu:

Pertama, 'ALIM (menguasai ilmu-ilmu keislaman)

Sungguh menjadi kenikmatan yang tak terhingga, bahwa ilmu-ilmu keislaman seperti ilmu Tafsir, Hadits, Fikih, Bahasa Arab, dll. yang sejenis itu menjadi satu mata rantai yang tidak terpisahkan. Sehinggga kajian satu masalah kontemporer tidak terlepas dari pandangan ilmu-ilmu tersebut; saling terkait. Sehingga mendalami salah satu bidang tersebut dengan sendirinya akan mengantarkan terkuasainya wawasan bidang yang lain.

Setelah menguasai bahan mentah ilmu tersebut, ternyata mahasiswa juga tertuntut untuk bisa mengalihbahasakannya menjadi penjelasan yang bisa dipahami oleh setiap komunitas masyarakatnya. Mulai dari komunitas ibu-ibu Majelis Taklim, para pengusaha,  hingga para politisi, dan lain lain. Inilah yang disebut mahasiswa yang mendalami bidangnya dan bisa mentransformasikannya ke dalam bahasa masyarakatnya.

Kedua, DA'I  (berjiwa pengabdian dan memiliki skill)

Setiap kiprah mahasiswa, baik di Mesir maupun di Indonesia, tidak terlepas dari memimpin, menyelesaikan masalah, mengelola komunitas masyarakat dan institusi, berkomunikasi, dan lain sebagainya. Hal ini menuntut penguasaan skill menejerial yang diasah dengan mumârasah dan latihan.

Skill ini akan tidak berarti apa-apa jika tidak ada semangat pengabdian dan dakwah, semangat kepekaan sosial. Semangat pengabdian menjadi ruh tanpa batas waktu dan tempat yang bisa mendayagunakan ilmu keislaman dan skill yang dimiliki.

Ustadz Yusuf Al-Qaradhawi dalam bukunya Ibnu Al-Qaryah wa Al-Kuttâb, menuturkan, bahwa ada perubahan mendasar yang terjadi pada dirinya ketika sibuk menjadi seorang aktifis. Ketika itu, ia tidak lagi memikirkan diri sendiri, tetapi memikirkan orang lain. Problematikanya tidak diri dan keluarga, tetapi juga masyarakat, bahkan umat Islam di setiap belahan dunia. Penuturan Ustadz Yusuf di atas adalah refleksi nikmatnya beraktifitas.

Maka menjadi sangat penting untuk menentukan target-target keikhlasan sebelum memilih aktifitas, agar substansi kesibukan menjadi terkawal, agar kepadatan aktiftas lebih tertata dan terukur hasilnya. Dengan semangat ini, diharapkan kesibukan bisa dinikmati.

Pemutakhiran Terakhir ( Sabtu, 04 April 2009 )
 
< Sebelumnya   Berikutnya >

   SITUS: Fraksi PKS DPR | DPW | PIPKS Luar Negeri | Fraksi DPRD | DPD | DPC | DPRa | Personal/Aleg | Tambah Web Link | RSS