Mari kita berhenti berkoar. Berhenti untuk menyalahkan orang lain. Berhenti mengklaim. Lalu bersama-sama kita meresapi makna hari Pahlawan Nasional. Kepahlawanan. Sebuah tema yang menarik untuk membangkitkan semangat kita. Sebagai bangsa, kita sedang dipermainkan. Oleh media yang membuat semua pihak kelimpungan. Siapa benar dan siapa salah menjadi remang-remang. Kita sedang dipermainkan "tangan" yang tidak kelihatan. Ada "otak" di balik layar. Menginginkan kita bermusuh-musuhan dan saling menghancurkan. Ini bukan sekedar teori konspirasi. Tetapi kenyataan bahwa persatuan sedang dikoyak-koyak oleh anak bangsa sendiri sudah kelihatan. Ada yang tidak ingin kita menjadi bangsa besar. Anda mungkin tidak setuju. Dan mari kita tinggalkan tema "tangan" yang tidak kelihatan itu. Lebih menarik jika kita membahas semangat kepahlawanan. Karena mengulang cerita kepahlawanan, dapat membangkitkan semangat kita untuk membangun, dan berbuat yang lebih baik untuk bangsa ini. Maka ada benar ungkapan yang mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai jasa para pahlawannya. "Mereka adalah orang-orang yang mendapat hidayah Allah. Maka tirulah kecemerlangan mereka" (Q.S. Al-an'am;90). "Dalam kisah mereka, terdapat pelajaran berharga bagi orang yang berpikir" (Q.S. Yusuf;111). Itulah keistimewaan para pahlawan. Kisah mereka dapat menjadi inspirasi bagi generasi seterusnya. Bahkan kita dianjurkan untuk meniru semangat dan jejak mereka ketika menggoreskan kesuksesan-kesuksesan besar. Mampu membuat sejarah, dari pesimis menuju optimis. Memindahkan keraguan untuk bangkit, dengan sentuhan keajaiban, yang hanya dimiliki oleh mereka yang percaya akan kemenangan. Coba lihat seorang Abu Muslim Al-Khurasani (137 H-755 M). Pada umur yang ke 19 tahun, dia berhasil mengalahkan pemimpin di Baghdad dan menjadi seorang panglima. Dan pada umurnya yang ke 37 tahun, dia sudah berhasil menjadi panglima tertinggi Daulah Abbasiyah. Bukan itu saja, bahkan dialah pendiri Dinasti Abbasiyah yang besar itu. Hingga Khalifah Makmun pernah memujinya dengan ungkapannya, "ada tiga raja besar yang pernah ada, yang berhasil mendirikan negara besar; Iskandar Agung, Ozdester, dan Abu Muslim Alkhurasani". Atau anak bangsa kita, Jenderal Besar Sudirman. "Aku hanya ingin berada di tengah-tengah prajuritku" ungkapnya. Atau Supriyadi "Kita para pejuang tidak mengharapkan pangkat, harta atau kedudukan". Atau Bung Tomo yang menggelorakan semangat takbir pada pertempuran di Surabaya 10 Nopember. Mereka berhasil membawa kemerdekaan dengan peluh dan darah mereka. Kini, air liur antara sesama kita acap kali keluar untuk menyerang. Menyalahkan tanpa mau menasehati. Konflik antar pemimpin bangsa menjadi kosumsi utama di media massa. Ada yang berubah jadi buaya. Ada juga yang mendeklarasikan dirinya sebagai kekuatan cicak. Semuanya ingin lari dari kenyataan kemanusiaannya. Kenyataan bahwa mereka adalah satu. Satu sebagaimana para pemuda-pemudi Indonesia delapan puluh satu tahun yang lalu telah saling berikrar; "tanah air satu tanah air Indonesia, berbangsa satu bangsa Indonesia, berbahasa satu bahasa Indonesia". Hari ini, kita dituntut untuk lebih kreatif dan berperan nyata dalam membuktikan keseriusan kita. Jangan sampai semangat Bung Karno saat meminta sepuluh pemuda untuk merubah dunia saat itu, tidak bisa kita wujudkan. Anak muda dalam bayangannya, penuh semangat perjuangan dan pengorbanan. Anak muda pada hari itu, memang belum mengenal film-film hollywood tontonan pemuda sekarang. Belum mengenal Miyabi yang menjadi favorit para remaja hari ini. Pemuda saat itu hanya memikirkan, "Merdeka atau Mati". Sekarang, dimana-mana kita bisa memanfaatkan fasilitas teknologi. Kita dapat mudah berkomunikasi. Kualitas pendidikan pun semakin hari semakin membaik. Maka tidak ada kata terlambat untuk terus berkarya dan berkreasi. Bangkitlah wahai anak negeri! Cairo, 10 Nopember 2009 M. |